Tampilkan postingan dengan label wawancara dan sosok di media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawancara dan sosok di media. Tampilkan semua postingan

15/11/09

Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku

0 comments

dimuat di koran Analisa Medan, Minggu 15 November 2009

Sudah cukup lama saya kagum dengan sosok penulis yang satu ini. Setiap saya mengirimkan email berisi pertanyaan, permintaan kritik-saran, atau pun permohonan untuk mengupas karya-karya saya, doi selalu membalas dengan cepat dan tidak tanggung-tanggung….balasannya bisa mencapai berlembar-lembar! Sangat teliti dan detil! Senang sekali ketika mengetahui bahwa seorang penulis yang telah memiliki nama, tapi tetap low profile, mau meluangkan waktu, dan serius membahas karya-karya kita, di sela-sela kesibukannya yang sudah pasti sangat padat-dat-dat!

Sobat muda, doi adalah Nur Mursidi (Mursid), pria kelahiran Rembang, 30 Maret 1975. Bagi Mursid, menjadi penulis adalah pilihan hidup. “Maka, jika pekerjaan itu telah dipilih, sudah semestinya kita merasa nyaman dan cinta pada pekerjaan yang kita tekuni,” tutur Mursid memulai percakapan. “Lebih dari itu, bagi saya menulis adalah kerja psikologis dan pikiran. Pada tataran psikologis, menulis bisa ‘membebaskan diri’ dari tekanan dan beban hidup. Sementara kerja pikiran, menulis berarti ‘memberi makanan’ ruhani pada jiwa,” jelas pria berambut ikal ini. Ya, tak dimungkiri, dengan menulis, ada proses belajar pada satu sisi dan menyebarkan ilmu pada sisi lain. Hmmm….setuju!

Aktivitas Mursid sebagai reporter (di majalah Hidayah) dan reporter tidak tetap di dua majalah lain, tentu banyak menguras waktu. Namun sesekali di waktu luang, Mursid masih menyempatkan menulis cerpen, esai sastra, dan resensi buku di sejumlah media massa. Bahkan tahun 2008 lalu, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini mengukir prestasi bergengsi seputar dunia kepenulisan. Iseng-iseng Mursid mengikutkan blognya (http://etalasebuku.blogspot.com) dalam Lomba Blog Buku yang diselenggarakan oleh Pesta Buku Jakarta 2008. Awalnya Mursid pesimis bisa memenangkan lomba tersebut karena ada persyaratan yang ditentukan panitia, nyaris tak bisa ia penuhi. Namun tiada disangka, ia malah sukses meraih juara I! Hadiah uang jutaan rupiah pun mengalir ke koceknya! “Saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku, bahkan juga proses kreatif menulis. Semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain, baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut,” tegas Mursid.

Berbicara mengenai topik menulis resensi buku, boleh dikata Mursid-lah pakarnya! Di kalangan teman-teman, Mursid lebih dikenal sebagai peresensi buku daripada penulis cerpen atau esai. Mengapa demikian? “Menulis resensi buku adalah sejarah awal saya mulai menulis. Pertama kali saya menulis resensi buku, langsung dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Setelah itu, rentetan peristiwa lain menyusul, menumbuhkan ‘kegilaan’ saya akan membaca buku, kemudian meresensinya. Bertahun-tahun saya menggeluti dunia ini. Akhirnya teman-teman menjuluki saya spesialisasi menulis resensi buku karena saking lamanya saya berkecimpung di dunia ini!” kenang pria lulusan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, tersenyum. Bayangkan Sobat muda, 11 tahun! Kompas, The Jakarta Post, Gatra, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, dan sederet media nasional lainnya telah memuat resensi buku karya Mursid. Ingin tahu resepnya? Yuk, mari kita intip!

“Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang perihal yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk ‘mengikat makna’ –meminjam istilah Hernowo—agar konten buku yang pernah dibaca, tidak menguap begitu saja. Toh kalau seandainya terjadi, kita tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir, melainkan tinggal melirik resensi yang telah ditulis,” jelas Mursid tentang pentingnya arti resensi sebuah buku.

Bagaimana cara menulis resensi buku yang baik?

“Wah, sebenarnya kalau ditanya pertanyaan ini, saya selalu susah menjawab. Kebetulan saya belajar menulis secara otodidak, tidak punya guru menulis,’ ujar Mursid merendah. “Tapi baiklah, saya coba ya. Pertama, jika saya ingin tulisan saya dimuat di media A, maka saya akan membeli media A, mempelajarinya dengan seksama; mulai dari kecenderungan tema resensi buku yang biasa dimuat, sistematika tulisan resensi bahkan sampai pada hal-hal kecil lain. Kedua, sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada 3 hal penting yang harus diperhatikan peresensi: a) pilihan buku yang akan diresensi b) penulis buku c) kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur media bersangkutan,” papar pria yang pernah mengecap pendidikan di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini, panjang lebar. Intinya Sobat muda, agar resensi buku yang kita tulis bisa menetas optimal, bacalah bukunya secara menyeluruh dan pahami benar isinya! Ohya, ada tambahan nih, sebaiknya buku-buku yang akan diresensi untuk media adalah buku-buku baru. Biasanya redaktur menetapkan, resensi buku yang dimuat, paling tidak umurnya 6 bulan dari terbitnya buku. Catat ya!

Berdasarkan pengalaman Mursid, kalau kita rutin menulis resensi buku dan dimuat di media, selain menangguk honor lumayan, penerbit juga akan mengirimkan buku-buku gratis secara berkala. Hmmm…bukankah buku ibarat harta karun bagi para penulis? Senangnya!

“Dulu, berbagai cemoohan kerap menghampiri saya karena saya menekuni dunia tulis menulis. Profesi ini dianggap ‘aneh’ dan tidak menjanjikan. Tapi saya tidak terpuruk. Saya justru semakin bersemangat! Setelah tulisan-tulisan saya terbit di media, lalu bekerja menjadi wartawan, akhirnya saya bisa membuktikan eksistensi profesi kepenulisan saya. Jadi, jika kita ingin berkiprah di bidang ini, kuncinya hanya dua: kerja keras dan tak pernah putus asa!” demikian pesan penulis yang berencana naik pelaminan dalam waktu dekat ini, kepada remaja Medan.*** Haya Aliya Zaki

Awal Agustus 2009
(beberapa kalimat dalam artikel ini dikutip dari http://indonesiabuku.com atas seijin nara sumber bersangkutan)
Selengkapnya...

31/07/09

Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan

0 comments

(sumber: http://indonesiabuku.com 23 juni 2009)

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambah. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi [sini].

BAGIAN I


Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….

Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.

Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.

Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!

Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?

Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.

Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.

Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.

Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat. Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.

Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?

Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.

Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.

Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.

Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???

Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan.
Selengkapnya...

Toggle

Contributors