Tampilkan postingan dengan label Nikah Pra Nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nikah Pra Nikah. Tampilkan semua postingan

18/03/10

Kuliah Umum Pra dan Pasca Nikah di Masjid AMIKOM

0 comments


Tema seputar kesiapan pernikahan memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Begitu pula yang terjadi di STMIK AMIKOM Yogyakarta. Walaupun mayoritas warganya masih merupakan mahasiswa, kebutuhan informasi akan pra dan pasca nikah dirasa diperlukan. Disamping kebutuhan akan seorang muslim, informasi seputar pra dan pasca nikah dirasa sangat bermanfaat bagi warga amikom yang hendak menikah ataupun membutuhkan informasi memadai untuk mempersiapkan pernikahannya kelak.

Hal ini pula yang mendorong Forum Intelektual Muslim AMIKOM (FIMA), sebuah komunitas silaturahmi muslim yang mewadahi bukan hanya mahasiwa namun juga karyawan, asisten dosen dan dosen STMIK AMIKOM untuk mengadakan kuliah umum seputar pra dan pasca nikah. Dalam acara yang berlangsung di masjid STMIK AMIKOM Yogyakarta ini, sebagai pembicara Bapak Hatta Syamsuddin, LC dari Solo, seorang penulis buku dan aktifis dakwah. Beliau berhasil menyampaikan materi seputar menikah dengan cukup menarik. Alumni salah satu universitas di Sudan ini berhasil merebut antusiasme peserta yang berjumlah sekitar 60 orang untuk memperhatikan dengan seksama.

Diharapkan dengan adanya acara semacam ini. Warga amikom bisa mendapatkan informasi yang cukup seputar dunia pernikahan. Sehingga nantinya warga amikom yang sebenarnya secara finansial dan mental sudah cukup siap untuk menikah bisa lebih percaya diri dalam menyempurnakan separuh agamanya./chend

 sumber : http://amikom.ac.id/index.php/main/berita/kuliah-umum-pra-dan-pasca-nikah-di-masjid-amikom

 
Selengkapnya...

16/03/10

Terbaru : Training Revolusi Romantis !!

0 comments


Banyak pasangan suami istri yang belum romantis. Alasannya bisa bermacam-macam. Ada yang merasa bahwa sekian tahun menikah adalah alasan yang cukup kuat untuk menjadikan romantis sebagai produk pernikahan yang sudah kadaluwarsa.  Mereka merasa sudah terlalu tua untuk romantis, dan mempersilahkan ; cukuplah anak-anak SMA dan para pengantin baru yang bisa romantis. Ada juga yang beralasan bahwa romantis hanyalah dongeng dari negeri impian, bagaikan kisah pernikahan putri Cenderella. Sungguh sangat fiktif dan susah bagi kita untuk menirukannya. Tiada daya dan upaya untuk beromantis ria.

     Demikian seterusnya anggapan-anggapan under estimate tentang romantis terus berkembang, hingga romantis benar-benar semakin jauh meninggalkan kita. Lalu akhirnya, banyak pasangan suami istri yang telah lama menikah tetapi sejatinya belum banyak menciptakan keluarga romantis yang ideal. Faktor yang lebih banyak mendominasi dalam hal ini adalah kesalahan dalam memaknai ROMANTIS !

    Maka SIROH CENTER sebagai Pusat Pengkajian Siroh untuk Motivasi dan Inspirasi merasa perlu dan peduli untuk memberikan INSPIRASI ROMANTIS di tengah masyarakat muslim, yang diambil dari mata air rumah tangga kenabian yang  mulia. Agar semua bisa memaknai romantis secara lebih mendalam, menghayati dan bersegara menciptakan dan memeliharanya dalam rumah tangga masing-masing.

       Untuk itu semua, SIROH CENTER mengusung training/ workshop " ROMANTIC REVOLUTION" untuk mendekatkan masyarakat muslim pada ROMANTISME yang mudah, berkah, tapi jauh mengagumkan !!! karena bersumber dari keabadian teladan rumah tangga nabawi yang suci.

ANDA BERMINAT ? UNTUK LEBIH JELASNYA KLIK LINK BERIKUT DI BAWAH INI :
Link Training Revolusi Romantis

Semoga Bermanfaat dan Salam Optimis !!! Selengkapnya...

28/01/10

Curhat Pra Nikah : Harga sebuah Keperawanan

0 comments


Seorang teman di FB bertanya tentang kegelisahannya seputar rencana pernikahannya. Ia menuliskan dalam messagenya :

PERTANYAAN

Assalamuallaikum ustadz,
Mohon maaf sebelumnya, saya ingin memohon pendapat atas permasalahan saya yang baru saja muncul.
Saya saat ini sedang berhubungan dengan seorang wanita di tempat kerja saya, dia adalah sosok wanita yang secara fisik sempurna.
Dan memang pada awalnya saya niatkan utk secepatnya menikah dengannya untuk menghindari zinah dan fitnah.
Tetapi kemarin, saya baru saja mengetahui darinya bahwa dia tidak lagi perawan. Memang terakhir dia berpacaran dengan seorang pria selama 9 tahun.

Saya jadi hilang arah, entah apa yang harus saya lakukan. Bagaimanapun keperawanan adalah hal yang penting bagi saya.
Dan memang, wanita itu sekarang menyesali atas apa yang telah dia lakukan dulu.

Entah apa yang direncanakan Allah. Saya jg bukanlah seorang muslim yang selalu taat kepada-Nya. Tetapi saya selalu berusaha menjadi lebih baik.
Salah satu langkah saya adalah untuk sesegera mungkin menikah agar terhindar dari pergaulan bebas. Tetapi sekarang muncul keraguan dalam hati.

Saya masih menyayanginya, tetapi saya selalu teringat akan dirinya yang sudah tidak lagi perawan.
Jujur, saya jg munafik, banyak perbuatan mendekati zinah yang telah saya lakukan, tetapi tidak pernah mencapai mengambil keperawanan wanita yang menjadi pacar saya.

Mohon pendapatnya atas hal ini, ustadz, saya tidak tahu harus bicara kepada siapa.


Terima kasih.Wassalam.


JAWABAN :

Wa'alaikum salam warohmatullah. Anda bertanya tentang pentingnya arti keperawanan dalam sebuah pernikahan. Untuk menjawabnya, saya teringat dengan satu bahasan yang pernah saya tulis dalam buku Inspiring Romance, yaitu : " Sekalipun tidak ada Darah yang Menetes ". Semoga bermanfaat.

BAHKAN SEKALIPUN TAK ADA DARAH MENETES

Ada malam pertama yang seharusnya terindah dalam hidup berubah menjadi neraka dan ladang pembantaian harkat dan martabat suami istri. Sebab yang paling banyak adalah karena tak ada sedikitpun darah yang menetes dari kemaluan mempelai perempuan. Kesimpulan singkatnya, pengantin perempuan tidak perawan lagi dan bukan orang baik-baik. Pengantin pria pun merasa ditipu dan dikhianati. Akibatnya terkadang cerai ditempat. Ada pula yang berubah menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dalam kehidupan rumah tangga itu. Lebih jauh lagi, pernah terdengar ada yang sampai menyakiti dan membunuh istri di malam pertamanya, karena terlalu besar harapan dan kekecewan yang dijumpainya.Naudzubillahi min dzalik. Sungguh sebesar inikah arti setetes darah ?
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran “ (QS An-Najm 28)

Semua hal ini bersumber dari satu hal : nilai agung keperawanan. Masyarakat timur masih tinggi menjunjung nilai ini. Seorang pengantin tidak perawan bagi mereka adalah aib besar keluarga. Di lain tempat, saya pernah membaca sebuah tradisi unik, saat pengantin pria membawa pasangannya ke kamar pengantin, berduyun-duyun serombongan orang menunggu tepat dihadapan pintu kamar tersebut. Sesaat setelahnya, pengantin pria keluar dengan membawa sehelai kain yang ada bercak darahnya lalu memperlihatkannya pada mereka yang menunggu di luar. Setelah melihat darah itu, mereka pun merasa puas dan bergembira. Merayakannya dengan pesta ‘keperawanan’ dan meninggalkan kamar pengantin dengan segera. Lihat, betapa tinggi sebuah keperawanan, hingga masyarakat pun ikut ambil bagian dalam proses penilaiannya.

Adapun masyarakat barat, sebagian besar tak lagi menuntut keperawanan saat menikah. Itu tidak lagi menjadi sebuah hal yang agung. Para orang tua tidak lagi berpesan pada anak gadisnya saat keluar rumah untuk hati-hati dalam bergaul. Mereka cukup cerdas dan visioner dengan memberikan sejumlah kondom sebagai bekalnya diluar rumah. Asalkan tidak hamil, asalkan suka sama suka maka lelaki manapun sah-sah saja menikmati tubuh anak gadisnya. Naudzubillahi min dzalik.

Lalu bagaimana dengan kita ? Menjawab ini semua butuh hati bijak dan rasio mendalam. Permasalahannya tidak sekedar ada tidaknya darah yang keluar. Pandangan banyak orang terlalu cepat menyimpulkan bahwa tidak ada darah, berarti tidak perawan. Tidak perawan disimpulkan bukan gadis baik-baik. Apalagi jika tidak dikomunikasikan hal itu sebelumnya, sang suami menyimpulkan ada penipuan terencana, merasa dikhianati, kecewa, dan lain sebagainya.

Setidaknya ada empat sikap dan pemahaman yang harus kita tahu, pahami, dan jalani dalam menyikapi berbagai permasalahan yang menyangkut ada tidaknya darah yang keluar di malam pertama. Namun sebelumnya, harus ada keinginan luhur untuk menjaga keindahan dan kemesraan malam pertama. Apapun yang terjadi. Bahkan sekalipun tak ada setetes darahpun yang keluar.

a. Intropeksi diri, Mengkaji Ulang cara memilih Anda.

Allah SWT berfirman : “ Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita baik-baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik(pula) “ (QS An-Nur : 26 )
Ada sebuah isyarat yang diungkapkan ayat diatas, bahwa pada umumnya setiap orang mempunyai kecenderungan yang sama dengan pasangannya. Ini sama sekali terlepas dari pembahasan fikih bab syarat sekufu’ dalam memilih jodoh.Ini masalah kecenderungan yang berhubungan dengan hobbi, kebiasaan, karakter, kesukaan, teman dan lingkungan, dan sebagainya. Isyarat yang senada juga ada dalam hadits : “ Jiwa-jiwa itu bagaikan pasukan yang dibariskan, yang saling senang akan bertemu dan yang saling benci tidak akan bertemu “ ( HR Muslim (2638) dari Abu Hurairah ). Hadits tersebut adalah komentar Rasulullah saw, saat mendapati seorang wanita Mekkah yang gemar bercanda lalu hijrah ke Madinah dan bertemu akrab dengan wanita Madinah yang juga suka bercanda !

Maka, pada umumnya karakter kita tidak akan jauh-jauh berbeda dengan pasangan kita. Saya beberapa kali mengomentari saat ada seorang ikhwah mengeluh tentang proses pernikahan aktifis dakwah yang berawal dari sebuah imel, chatting, atau bahkan sms, dan mengabaikan ‘jalur’ konsultatif dengan para murobbinya. Saya mengatakan padanya, dengan berlandaskan ayat di atas ; bahwa akhwat yang gemar chatting wajar jika mendapat ikhwan yang gemar chatting pula. Mereka yang suka berbalas sms wajar jika mendapat pasangan mereka yang suka berbalas sms juga. Ini artinya apa ?

Dalam konteks tidak ada darah pada malam pertama, sungguh ini adalah sebuah konsekuensi dari pilihan kita jauh-jauh hari sebelumnya. Ketika kita berproses, ada jeda yang cukup untuk menimbang ulang dan mencari data tambahan sebagai bahan pertimbangan. Kita pun sadar sepenuhnya, bahwa prioritas kriteria pasangan kita adalah agamanya bukan ? Terlebih, setelah pilihan itu terlegitimasi secara penuh dengan keyakinan kita usai sholat istikhoroh. Kemudian setelah semua fase dan pertimbangan kita lampui, hati kita teguh menyatakan bahwa dia pilihan kita, maka sesungguhnya pada saat yang sama kita telah berikrar untuk siap konsekuen, menerima, dan bertanggung jawab atas hal-hal yang kita temui pada pasangan kita di kemudian hari.

Tidak sedikit mereka yang mengetahui persis bagaimana keadaan pasangannya jauh sebelum mereka menikah. Dari yang terkenal playboy gonta-ganti pacar, mantan pemakai narkoba, generasi hura-hura, hingga mereka yang alim, santun, dan mengenal dakwah sejak masih berpakaian OSIS. Bukankah semua itu telah menjadi pertimbangan jauh-jauh hari sebelum akad ditunaikan ? Maka pertanyaan selanjutnya adalah : Setelah semua pertimbangan dan keyakinan kita bahwa pilihan kita tidaklah salah, baik dari segi aqidah, akhlak, ibadah, kepribadian, dan pemahaman agamanya, maka apalah artinya ada tidaknya setetes darah di malam pengantin ini ?

b. Mengetahui Sejarah Darah, Tidak lekas berburuk sangka

Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (QS Al-Hujurat : 12)

Memang tidak mudah membiaskan prasangka buruk menjadi sebuah permakluman. Sementara banyak orang menyatakan bahwa tidak ada darah, berarti istri kita mempunyai masa lalu yang kelam. Naudzubillah. Untuk menghindari segala persangkaan yang tak perlu, apalagi jika berakibat kontak fisik hingga perceraian, ada baiknya kita mengetahui ‘sejarah’ ada tidaknya darah di malam pertama.

Sejarah munculnya darah tersebut adalah robeknya hymen (selaput dara), yaitu kulit tipis yang terletak menutupi sebagian besar muara / mulut vagina. Bentuknya setengah lingkaran dan ada lubang kecil untuk mengalirkan darah haidh dan sekresi. Kebanyakan hymen ini memang robek dan berdarah saat terjadi persenggamaan perdana, entah di malam pertama atau malam-malam sebelumnya, dalam kasus perzinaaan atau perkosaan misalnya.Namun tidak menutup kemungkinan tidak ada darah sedikitpun yang keluar saat senggama, karena disebabkan kondisi selaput dara yang beragam. Ada selaput dara yang elastis atau lentur sehingga tidak robek saat senggama ; Ada selaput dara yang berlobang besar hingga tidak robek saat dilalui oleh penis; Ada pula yang memang sudah robek saat kecil karena kecelakaan atau berolahraga.

Nah, begitu banyak kemungkinan yang seharusnya bisa menghindarkan kita dari rasa was-was dan curiga karena tidak ada darah di malam pertama. Ketika kita tahu persis siapa pasangan kita dan bagaimana sebagian sejarah hidupnya, maka adalah tidak layak jika tiba-tiba kita berbalik 180 derajat dan menuduhnya yang bukan-bukan, hanya saat kita melihat tak ada darah di malam pertama.

Kalau ingin sekedar melihat darah di malam pertama, maka kedokteran modern saat ini telah menemukan operasi untuk membuat selaput dara palsu. Sehingga mantan (maaf) pelacur sekalipun akan terlihat bak gadis perawan saat malam pertama pernikahannya. Anda mau yang seperti itu ? Naudzubillah

c. Taubat : Anti Virus Masa Lalu yang paling canggih

Bahkan sekalipun ada bibir mungil yang menangis penuh iba malam itu. Menyatakan bahwa ada kejadian kelam di masa lalu telah merenggut keperawanannya. Sang suami pun tidak bisa serta merta memvonisnya dengan cerai, atau ‘sekedar’ menghujaninya dengan kalimat-kalimat yang membantai. Bisa jadi kejadian kelam itu adalah perkosaan dengan segala modus operandinya. Bisa jadi pula memang atas dasar suka sama suka, saat hati belum sepenuhnya sadar akan sebuah dosa.

Untuk kasus pertama, maka sungguh mulia dan sungguh besar jiwa Anda jika mampu memakluminya. Andalah ‘sang dewa penolong’ yang diharapkan meneguhkan hati dan perasaannya yang gundah selama ini. Mungkin juga ia memilih Anda karena yakin bahwa Anda adalah seorang bijak yang berhati mulia. Benar-benar sebuah ‘pakaian’ yang berfungsi untuk menutupi, melindungi dan menghangati. Insya Allah semua berpahala.

Namun jika atas dasar suka sama suka, maka pastikan dan yakinilah bahwa hanya taubat yang tersisa pada dirinya. Tidak ada cinta dan gairah masa kelam yang masih ada. Hanya taubat dan sungguh taubat nasukha itu menghapuskan setiap kejahatan betapapun besarnya. Tidak sekali-sekali kita meremehkan sebuah taubat yang sungguh-sungguh ketulusannya. Ingat saja kemarahan Rasulullah saw saat Khalid bin Walid mencerca wanita Ghamidiyah yang tengah dirajam karena berzina. Rasulullah saw menyatakan : “ Tenanglah wahai Khalid. Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perempuan ini telah bertobat dengan tobat yang apabila dilakukan oleh seorang penarik pajak secara kejam, niscaya dia akan diampuni “ ( HR Muslim V/120 ).

Di lain wakru, masih pada kasus perzinaan, kali ini dilakukan oleh seorang wanita Juhainah. Setelah tewas dirajam, Rasulullah saw pun menyalati wanita tersebut, hingga Umar bin Khattab ra heran dan bertanya : “Apakah engkau menyalatinya ya Nabiyyullah. Padahal dia telah berbuat zina ? “. Nabi saw menjawab, “ Sesungguhnya dia telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Seandainya tobat wanita ini dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, maka hal itu masih cukup “ ( HR Muslim V/120)

Meski demikian agungnya sebuah taubat di sisi Allah, namun di sisi seorang laki-laki terkadang lain kesannya. Sungguh berat menerima hal ini. Sebagai laki-laki ada gengsi yang tinggi ketika menerima kenyataan istrinya pernah berbuat keji dengan laki-laki lain. Jangankan keperawanan fisik yang telah direnggut, sebagian laki-laki ada pula yang tidak mau menerima istri yang pernah mencintai orang lain. Salah satu contoh tipe laki-laki tersebut adalah As-Syahid Sayyid Quthb. Beliau menolak menikahi seorang wanita yang lama dicintainya secara tulus, hanya karena wanita tersebut pernah berkenalan dan dipinang oleh laki-laki lain. Keperawanan hati, demikian beliau mengistilahkannya dalam karya sastra romantis yang bertutur tentang kisah nyata cinta sejatinya, jauh sebelum mengenal dunia dakwah dan pergerakan.


Akhirnya, semua telah terjadi. Pastikan bahwa tidak ada lagi cinta jahiliyah yang terpendam. Pastikan bahwa hanya taubat yang tersisa. Kemudian berusahalah untuk menerima istri Anda apa adanya. Membimbingnya dengan sepenuh keyakinan, bahwa taubat adalah software anti virus masa lalu yang paling canggih dan selalu up to date.

Jika belum mampu, maka tunggulah sejenak barang sepekan dua pekan. Tak perlu ada banyak perdebatan atau pertengkaran fisik terjadi. Hingga kita yakin sepenuhnya bahwa tidak ada emosi dan nafsu yang berbicara. Keputusan yang terbaik dan barakah, insya Allah kan menjelang.

d. Meneguhkan bukan Meruntuhkan Mesra

Ada kalanya tak ada darah di malam pertama, dan sang istri pun tak tau apa sebabnya. Namun yang berkecamuk hebat dalam pikirannya, sang suami meragukan keperawanannya. Maka hatinya pun serasa hancur terjerembab. Percaya diri yang sedari tadi ditatanya runtuh tak terkira. Tiba-tiba wanita tersebut menjadi sang tertuduh. Ia sangat heran mengapa tak ada sedikitpun darah yang menetes. Padahal kondisinya serupa persis dengan apa yang dikatakan Maryam as kepada Jibril As : Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku, dan aku bukan (pula) seorang pezina “ ( QS Maryam 20 )

Terkadang ini menjadi hal yang begitu mengerikan bagi para wanita. Mereka yang sejak lama menunggu malam pengantin untuk mempersembahkan darah perawannya pada sang suami tercinta, tiba-tiba harapan mulia ini pupus begitu saja. Tidak ada darah yang keluar, dan ia merasa wajah suaminya berubah begitu menyeramkan. Hatinya menangis teriris-iris dan berkata-kata lirih, sebagaimana kondisi Maryam saat merasa takut akan tuduhan kaumnya : “ Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti dan terlupakan (oleh manusia) “ (QS Maryam 23)

Wahai para suami, jika menemukan kondisi seperti ini, saatnya untuk meneguhkan mesra. Bukan meruntuhkannya. Saat ini sangat menentukan baginya. Ada kata-kata bijak yang ditunggunya dari Anda. Katakan sejujurnya, bahwa setetes darah bukanlah hal yang besar bagi Anda. Katakan pula, bahwa banyak hal dan kondisi yang mungkin menyebabkan tidak tumpahnya darah sama sekali. Katakan apa saja yang meninggikan hatinya, hingga rasa percaya dirinya tumbuh kembali. Hingga ia merasa bahwa Anda sama sekali tak terpengaruh dengan peristiwa aneh yang baru saja terjadi. Saatnya meneguhkan mesra, bukan meruntuhkannya.

Bagaimana jika saya usul, katakan saja kepada istri Anda saat ia tengah bersedih dengan kenyataan unik tersebut : " Dinda, kok nggak ada darah yang keluar ya... kita coba lagi yuk ! ". Selengkapnya...

07/01/10

Selamat Tinggal Keraguan

0 comments


Rini Cahyani, nama yang telah menggetarkan seluruh persendianku. Delapan bulan yang lalu. Tepatnya setelah dua bulan dari kelulusanku dari jurusan Teknik Industri kampus UI Depok.
Nama itu muncul di bagian paling atas dua lembar kertas yang disodorkan Ustad Madani  padaku. Sebuah nama yang masih asing bagiku. Namun justru itulah yang membuat jantung ini berdebar lebih cepat. Wajahkupun tak malu mengeluarkan rona merah-birunya. Aku penasaran ? Jelas !

Tetapi untunglah ustad dapat menangkap gelombang penasaran dalam raut mukaku. Setelah sempat terdengar batuk-batuk ringan, beliau mulai mengeluarkan suara khasnya.
" Gimana akhi, sudah antum baca semua biodatanya khan ..?"
Aku tak langsung menjawab. Semua butuh kehati-hatian. Setiap kalimat yang meluncur dari lisanku saat ini, dapat mengubah jalan hidupku di masa mendatang. Tetapi ustad Madani masih terus menebak-nebak alur pikiranku,
"Apakah beliau tidak memenuhi kriteria yang antum tuliskan ? "
" Bukan begitu ustad, tapi… ",. Sekali lagi aku harus berpikir keras.
" Toyyib, antum baca deh terlebih dahulu. Tapi jangan lupa teh dan gorengannya jangan dicuekin ya .. "
" Kalau yang itu… nggak usah ditawarin. Insya Allah kita habiskan  Ustad…."

Ustad tersenyum renyah meninggalkan aku dalam bingung. Bukan sekedar bingung. Ada getaran aneh tapi agung dalam kebingunganku. Sementara dua lembar kertas di tanganku malah semakin angkuh. Mencoba menari-nari dalam hatiku.
Masalah tidak memenuhi kriteriaku ? Ah, sebenarnya itupun bukan sesuatu yang kaku bagiku. Namun bagaimanapun aku harus lebih teliti. Kubaca dengan cermat deretan kalimat-kalimat dibawah nama tersebut.

Nama… Rini Cahyani bin  Soewandi …..
Soewandi ..? orang Jawa ? atau bahkan keturunan keraton Surakarta ?. Gimana kalo jadi nikah nanti, apa harus pakai adat jawa ? Ditonton ratusan orang di bangsal kencana ?. Memakai blangkon dan keris yang tersembunyi ? Wah ! Apa kata Dunia Islam nantinya ? Seribu satu pertanyaan yang kurang esensial mulai bersliweran mengganggu pikiranku. Aku beristighfar tiga kali. Nampaknya syaitan masih bersemangat untuk menunda-nunda azamku untuk menikah. Bisikannya yang bertabur keraguan itu harus segera kuenyahkan.

Bismillah. Mulai kubaca lagi deretan selanjutnya dengan lebih teliti. Tiap huruf, kata bahkan koma dan titik sangat menentukan !!.Semoga ustad lebih sabar menunggu.

Tempat Tanggal Lahir… Magelang, 23 Juni 1978..
Magelang ? Pasti suku Jawa. Aah.. bukan masalah besar. Toh aku tak pernah mencantumkan jenis suku pada daftar kriteria yang aku serahkan pada ustad. Apalagi orangtuaku paduan dinamis dari suku Melayu dan Bugis. Dan tak pernah kulihat ada pertikaian yang menyangkut SARA di rumahku.

Tapi bagaimana kalau ortunya Kejawen ? Hiii…bagaimana kalau diharuskan mandi kembang tiap malam jumat nanti. Brrr…dingin.  Belum lagi nyuci keris dan seperangkat jimat tiap malam purnama ?. Wah, aqidah islamiyah dan dakwah bisa terancam nih. Apa kata Dunia Islam nanti ? Duh, pikiranku mulai ngelantur lagi.

Tapi tahun kelahiran ? 1978 ? Dua tahun lebih muda dariku. Ini berarti ada  kesalahan. Apa mungkin ustad salah baca dengan permintaan tertulisku sepekan yang lalu ? atau  beliau punya penafsiran lain ?. Kalau tidak salah, yang aku tuliskan dan inginkan adalah minimal seusia dengan ku, atau jika memungkinkan lebih tua sekian tahun dariku.
Ini bukan sok pahlawan sebagaimana sering dituduhkan beberapa ikhwah kepadaku. Ini masalah muyul akhi, begitu aku menjawab tuduhan tersebut. Selama ini aku cenderung mudah berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Tapi ini ? dua tahun lebih muda ? Bagaimana kalau masih kekanak-kanakan ? Bagaimana kalau ngajinya belum lurus ? Mengapa ustad memberi pilihan yang ini sih ?. Kembali si syaiton asyik membenamkan pikiranku di lumpur keraguan. Kenapa aku harus terpedaya lagi ? Tsiqoh pada ustad adalah pilihan terbaikku saat ini. Bisa jadi umurnya masih muda, tapi dewasa dalam memaknai hidup. Yah, semoga.
Kulanjutkan mencermati barisan kalimat  selanjutnya di secarik kertas HVS tersebut,

Alamat    …. Perumahan Perwira TNI AL  Blok C 3 – Cilandak, Jakarta Selatan..
TNI AL dan Soewandi ? Putri seorang perwira militer ? Calon mertuaku seorang militer ? Apakah ia juga mendidik putrinya dengan gaya militeristik ?. Bagaimana kalau sang putri ternyata lebih militer dari orangtuanya ? Bagaimana kalau aku harus di uji dulu lewat adu fisik dengan salah seorang anak buahnya ? atau bahkan kakaknya barangkali ? Sebagaimana  kisah-kisah pendekar yang pernah aku baca di komik-komik waktu kecil dulu.
Ah, tak perlu ragu. Ini Cuma bisikan setan. Sekarang bukan jaman purba yang mengandalkan otot dan kekerasan. Lagi pula, kalau memang diperlukan, minimal aku masih bisa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan latihan thifan-ku di kampus dulu.

Ku menoleh sebentar ke arah ustad Madani yang duduk di depanku. Nampaknya ia cukup paham dengan apa yang ada dipikiranku. Ia hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit berdehem dan kembali larut dalam konsep khotbah Jum'at yang harus dibawakannya di Masjid UNJ besok siang.
Aku pun kembali asyik menelaah deretan kalimat di secarik kertas, yang menurutku masih menyimpan berjuta misteri.

Pendidikan .. Lulus S 1 Fakultas Sejarah Universitas Gajah Mada tahun 2001..
Nah ! Ini sesuai dengan kriteria, non eksakta. Aku lulusan eksak, teknik Industri  dan ia anak sosial, non eksakta, insya Allah matching dan cukup mewakili konsep tawazun, Amiin.

Organisasi …Humas BEM, Keputian LDK, Remas, Pengajar TPA  dan bla…bla..bla...
Aktifis kelas berat ? Siapa takut. Bukankah masa lima tahun kuliah telah kuhabiskan di berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Baik ekstra maupun intra kampus. Cara kerja, kuliah, belanja, dakwah dan pergaulan ala aktifis semua sudah 'mendarah daging' bagiku. So, kalau ketemu dengan aktifis yang satu ini, insya Allah tidak perlu susah beradaptasi. Semoga saja ya. Teriakku dalam hati.

Pekerjaan .. Guru Tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri Mata Pelajaran Sejarah
Ya Allah .! Aku merasakan detak jantungku berjalan lebih cepat. Keringat dingin nampaknya akan menetes di dahiku. Wajahku tak ketinggalan ikut bereaksi. Tegang. Menambah  keterkejutan yang melahirkan kegelisahan baruku.

Tepat pada waktunya ! Ustad Madani menoleh sejenak ke arahku. Dengan mudahnya ia bisa menangkap kegelisahan yang tersirat dari wajahku. Masih dengan tenang. sejuk dan senyuman khasnya, ia menegurku.
" Ada yang mengganjal akhi ?"
" Eeeng… ada.. Ustad, Anu… eee.. benarkah ukhti ini  salah seorang pengajar di SLTP IT Nurul Fikri, Depok ? "

Ustad Madani membenarkan letak kacamatanya. Tanda rasa penasarannya mulai tergugah.
" Ya, betul. Ukhti Rini baru dua minggu yang lalu diangkat sebagai pengajar tetap di sana. Sebelumnya, sudah tiga bulan ia mengajar sebagai guru honorer."
" Tapi, ustad …. ", aku terhenti sejenak untuk mencoba lebih tenang.
" Ada yang antum risaukan dengan status gurunya itu ?. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mulia akhi Fajar ? ".

Sebuah pertanyaan yang wajar dan benar.  Tidak ada yang salah dengan status ukhti Rini sebagai pengajar. Tapi, pengajar di SLTPIT Nurul Fikri ? Mungkinkah ia dan keluarganya akan menerima pinanganku nantinya.

Ustad Madani mulai menyelidiki lebih dalam,
" Atau Akh Fajar masih ragu untuk menikah ? Ingat akhi, usia antum lebih dari cukup lho..!"
" Eh..bukan begitu Ustad. Masalah nikah kan sudah ana azamkan setahun yang lalu. Tapi masalahnya ukhti ini…. "

Ustad Madani tampak tersenyum dan memotong dengan pelan,
" Ukhti Rini insya Allah jauh lebih siap dari antum akhi. Ana tahu persis tetang dia.  So, what's the problem ?"
" Ehm.. baiklah. Permasalahannya seperti ini Ustad, mungkin antum belum tahu. Awal bulan yang lalu perusahaan tempat ana bekerja bangkrut dan memecat semua karyawannya termasuk ana…"

Ustad kembali menebak-nebak apa yang ada di benakku,
" Jadi kembali ke masalah ma'isyah dan rizki nih … "
" Bukan itu ustad, untuk pernikahan ini insya Allah ana masih ada simpanan….tapi  masalahnya .."
"Iya,  Masalahnya ….."
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bicara sama ustad Madani harus jelas. Jangan sampai beliau salah tafsir.
" Masalahnya Ustad…. , sudah satu minggu ini ana diterima bekerja di SLTP Nurul Fikri . Tepatnya,…eeng… sebagai petugas kebersihan sekolah …."
Ah.. akhirnya.. keluar juga kelu dalam lisanku.

Muka ustad Madani agak berubah. Kini beliau tahu permasalahanku sebenarnya. Yaitu….keenggananku sebagai seorang tukang sapu sekolah untuk bersanding dengan salah satu dewan gurunya.

***********
Muka pria setengah baya di depanku masih datar. Hanya sesekali asap rokoknya menambah ketegangan dalam jantungku. Kolonel Soewandi namanya. Yah, akhirnya aku datang juga di rumahnya. Berbekal iman dan takwa, begitu kata ustad Madani setengah jam yang lalu. Sebelum melepasku pergi untuk sebuah mission imposible ini. Baru kali ini aku meminang, putri solo, anak perwira militer lagi ! Ya Rabb !
" Jadi, Nak Fajar lulusan Teknik Industri UI tahun kemarin ya….wah.. hebat. Ya…Terus, sekarang kerja di mana …? Perusahaan Asing atau di BUMN semacam Pertamina, Telkom, PJKA… atau malahan di Bulog ? "

Perusahaan Asing ? BUMN ? .Gubraaaak ! Seolah kepalaku tertimpa dua batu bata yang di lempar dari arah berlawanan. Yang satu tepat mengenai wajahku, sementara sisanya tepat mengenai tengkorang belakangku. Uugh !
" Ah.. tidak juga Pak. Sebelumnya saya sempat kerja di perusahaan Farmasi. Tapi sekarang saya satu kantor dengan Rini, putri Bapak .. "
" Oooo….di mana itu… SLTP Nurul Fikri ya….bagus..bagus… cinta lokasi nih ceritanya ? ".

Pak Soewandi sedikit tersenyum menggoda. Bagiku malah tambah menyeramkan. Cinta lokasi ? Memangnya saya aktor. Dan sejak kapan putrinya main film ?. Nah, Pertanyaan selanjutnya bisa di tebak …..Bismillah. Aku akan menjawabnya..meski kemungkinan terburuk aku mungkin akan di usir. Innallaha ma'ana.
" Di sekolah, nak Fajar ngajar mata pelajaran apa ?. Kalau lihat latar belakang akademis, kalau Bapak nggak salah…pasti Matematika atau Fisika ya ..? "
" Eee… tidak juga Pak. Saya belum mengajar. Saya masih ditempatkan di bagian Umum, dibawah koordinasi bidang Tata Usaha……"
" Wah .. Bapak jadi bingung. Maksud nak Fajar jadi dewan Pengawas gitu…konkritnya gimana……. ? "
" Engg…Tepatnya….saya jadi petugas kebersihan sekolah Pak ! "
" Apaaaa ? Petugas kebersihan sekolah !!!!! "

Beberapa detik berlalu dengan cepat. Diam. Tak ada suara dan gerakan sedikitpun keluar dari sosok berwibawa di hadapanku. Hanya bola matanya yang terus menatap tajam ke arahku. Mungkin ada yang janggal di wajahku.

Diam dan bisu. Seolah kami telah bersepakat sebelumnya.
Terlambat, sudah kepalang basah. Sudah terlanjur aku melangkah. Tak mungkin aku melarikan diri saat ini. Bisa-bisa, satpam rumah akan membekukku dengan bangga. Atau kemungkinan lain, bisa jadi Kolonel Soewandi sudah siap dengan pistol Bareta-nya, dan dengan mudah ia akan melumpuhkan kedua kakiku, sebagaimana sering kulihat saat liputan kriminal penangkapan bandar narkoba di televisi.

Ngawur ! Kenapa aku masih suka ngelamun di saat-saat menentukan seperti ini ? Allahu akbar. Aku berseru dalam hati memohon kekuatan.. Apapun yang terjadi setelah ini, aku siap menerima kenyataan.

***************

“ Kaaak Fajaaaaar, hayoooo ngalamun dedee ya ? Kapan kita berangkat ke sekolah nih  ? “
Astagfirullah ! Suara manja Rini, istriku, membangunanku dari lamunan yang menegangkan. Sementara tangan kananku masih setia dengan dua lembar kertas sumber lamunanku, beberapa menit yang lalu. Ah, terlambat ! Ketahuan ! Dua mata indah istriku menangkap cepat ke arah dua carik kertas di tangan ku.
“ Eh, lagi baca apaan Kak ? hayooo….biodata dedee pas taaruf yaa ? Ngakuuu ? Pasti tadi lagi ngalamun aku too. .Nggak papa kok, Istrimu ini pantes kok buat bahan ngalamun…”.
“ Adaaaaaw !!! “.

Kali ini aku kalah sigap. Cubitan mesranya tepat menghujam pipi kananku. Istriku terus menggodaku manja, sementara rona merah biru kembali melanda raut mukaku. Enam bulan paska walimah, suasana bulan madu tetap abadi di rumah ini.
“ Dee… kakak mau tanya serius nih, boleh ? “
“ Serius ??? ada apa kak ? boleh nooo… aku kan istrimu… mitsaqon gholidzo…inget lo kak .. “
“ Dee.. kalo boleh tahu, Bapak pernah cerita nggak sama dedee sebab beliau nerima kakak sebagai menantunya yang petugas kebersihan sekolah ? “
“ Ooo… itu too yang dilamunin tadi…? “
“ Dan tahu nggak ? Pas kakak bilang pekerjaan kakak tukang sapu… Bapak tuh sempat diam lamaa gitu… menatap tajam wajah kakak, sebelum akhirnya menyuruh kakak datang seminggu lagi… “
“ Lha iya jelas Kak, lha wong salah satu pertimbangan Bapak nerima kakak kan wajah kakak ? “
Bola mataku melebar. Ingin rasanya saat ini menyambar sebingkai cermin di ruang tengah, sekedar untuk meyakinkan hatiku tentang kebenaran ucapan istriku barusan.
“ Lho Kok ? Maksud dedee pasti Bapak yakin yaa kalo wajah kakak bisa memperbaiki keturunan keluarga Raden Soewandi ? “
“ Yeee…. GR banget nih Kakak ! Bukan itu maksudnya….Sebelum walimah, Bapak dulu pernah cerita ke dedee… Katanya, beliau nerima kakak tuh karena pas merhatiin wajah kakak kok kayaknya persis Letnan Mahmud, komandan peleton Bapak pas operasi integrasi Timor-Timur tahun  1975… Nah ceritanya.. Letnan Mahmud tuh yang nyelamatin Bapak dari berondongan peluru saat terjadi kontak peluru dengan milisi Freetilin yang brutal ! “
Kembali dua bola mataku melebar.
“ Wah…heroik banget ya, jadi ceritanya Bapak mengira saya anak Letnan Mahmud , trus mau balas jasa gitu yaa ? “
“ Bukan, Letnan Mahmud justru meninggal tertembak peluru musuh sesaat setelah menyelamatkan Bapak…. Mungkin Bapak agak tersentuh melihat wajah kakak yang persis Letnan Mahmud, dan ingin terus mengenangnya dengan menjadikan kakak sebagai menantunya .gitchuuu…..”
“ Oooooo… alah alaaaaaah…..Trus sekarang gimana ? “
“ He..he…Sekarang ? Bapak pernah bingung lho, dan bilang sama dedee…sekarang kok suamimu jadi nggak mirip sama Letnan Mahmud yaa ? “

    Hem.. Aku tersenyum dalam ketenangan. Tidak salah dan tidak ragu lagi. Ini semua pertolongan Allah. Bahkan bukan saja saat diterimanya pinanganku oleh Kolonel Soewandi. Satu bulan setelah pernikahan, pihak sekolah mengangkatku jadi tenaga pengajar.  Dan Alhamdulillah, sepekan yang lalu, aku resmi jadi guru tetap bidang Fisika di SLTPIT Nurul Fikri !.

 Subhanallah, Walhamdulillah wa laa ila ha illa Allah !! Aku merenung lebih jauh atas segala yang kulalui saat proses menuju gerbang pernikahan. Jika seseorang telah berazam, dan meninggalkan segala keraguan, Allah pasti akan memudahkan !

Betapa tidak ? Bagaimana mungkin aku yang berambut lurus, berhidung standar pribumi,  bisa serupa dengan Letnan Mahmud yang berambut cepak, dan keturunan Pakistan ? Subhanallah !
“ Kaaaak ! berangkat sekarang yuuk, udah jam setengah tujuh loo …”
    "Iyyyaaaaa…!!!"
Sejurus kemudian, Istriku sudah sigap menodongkan kunci sepeda motor tepat ke arah keningku
. Dor !
Tiba-tiba wajahku memerah kembali. Ada yang mendarat telak di pipi kananku. Kali ini bukan cubitan.
 ( selesai) Selengkapnya...

30/11/09

Minta Maaf itu Mesra

0 comments

Meminta maaf adalah pekerjaan ringan yang hanya membutuhkan syarat : pengakuan atas kesalahan dan kelemahan kita. Tidak disebut permintaan maaf yang tulus jika masih diselubungi perasaan tidak bersalah dan kesombongan. Padahal setiap kita sejatinya memang bertaburkan kesalahan dan kekurangan. Karenanya, semestinya meminta maaf harus menjadi kebiasaan yang tidak bisa kita tinggalkan.

Meminta maaf antara suami istri bukanlah upacara simbolik semacam hari raya Idul Fitri semata. Meminta maaf juga tidak perlu menunggu adanya sebuah konflik yang membuat hati suami istri berjarak. Meminta maaf cukuplah menjadi kebiasaan sederhana setiap kita merasa kurang optimal atas hal-hal yang kita lakukan. Bahkan saat tidak ada satupun kesalahan yang kita lakukan, minta maaf tetap bisa kita ungkapkan. Inilah yang akan mengundang kemesraan kita sekaligus potensi kesombongan yang ada dalam diri kita.

Apalah kita jika harus berat dalam meminta maaf pada suami atau istri kita ? Sementara manusia terbaik yang pernah ada, Rasulullah SAW juga tanpa canggung meminta maaf pada istrinya. Dari Shofiyah ra, Rasulullah bersabda padanya : Wahai Shafiyyah, aku minta maaf kepadamu atas perlakuanku kepada kaummu karena mereka telah mengatakan saya begini dan begitu  (HR Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir)

Terakhir, kita perlu merenungi sebuah kisah romantis salah satu sahabat Rasulullah SAW yang utama. Yang lisannya tak pernah kelu dalam meminta maaf. Hatinya pun tak merasa gengsi saat berharap ridho dari istrinya. Bahkan ia merangkai permohonan maafnya dalam sebuah gelaran baris-baris puisi yang indah. Ini bukan sekedar permohonan maaf biasa, namun ada energi kemesraan di dalamnya. Lebih dari itu, Abu Darda lebih terlihat sedang berkata-kata mesra dari hanya sekedar meminta maaf. Ternyata, dalam meminta maaf pun ada seninya. Sebuah seni yang menambah mesra. Subhanallah.

Kisah Permohonan Maaf Abu Darda pada Istrinya


Abu Darda adalah salah seorang sahabat yang romantis, suatu ketika ia berpesan pada istrinya : Bilamana engkau melihatku marah, maka relakanlah aku. Dan bilamana aku melihatmu marah, aku pun akan merelakanmu.
    Kemudian Abu Darda melantunkan sebuah syair cinta dan permohonan maafnya :

Berilah maaf atas kesalahanku
Cintaku niscaya menyertaimu selalu
Janganlah menyebut keburukanku
Kalau aku marah terbawa nafsu
Janganlah mentatahku
Seperti kau sekali melubangi kayu
Sebab engkau tidak tahu
Bagaimana rasa terasing diriku
Jangan banyak mengeluh
Lalu daya menjadi rapuh
Hatikupun menjadi tak acuh
Dan semua hati terpecah belah
Aku lihat di hati cinta dan luka parah
Bilamana bertemu cinta tetap pergi tak mau mengalah


Aduhai hati yang diberi hanif,  lihat sejenak kembali kata-kata Abu Darda di atas. Dengan sedikit kita merenung, sudah jelas bahwa yang diinginkan Abu Darda bukan sekedar keridhoan istrinya atas kesalahannya. Ada misi tersembunyi dibalik semua itu. Abu Darda sesungguhnya ingin menyanjung istrinya dengan kata-kata mesra. Maka dihiasnya dengan ungkapan maaf yang berbalut puisi mesra. Namanya juga romantis, pasti kreatif ! Selengkapnya...

Toggle

Contributors