Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Motivasi. Tampilkan semua postingan

19/03/10

Sehat Berpahala

1 comments


Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat sehat hari ini.  Kesehatan adalah salah satu kenikmatan termahal yang kita miliki. Dengannya kita bisa menjalankan berbagai aktifitas, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Pekerjaan seharu-hari yang kita tekuni membutuhkan fisik yang kuat untuk menjalaninya. Begitupun ibadah kita sehari-hari, tidak mampu kita tunaikan dengan baik dan khusyuk jika datang penyakit yang menggerogoti. Namun sayangnya, meski kesehatan adalah nikmat yang mahal tapi kebanyakan dari kita belum menyadarinya. Hal ini sudah sejak lama diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya : “ Dua nikmat yang manusia sering lalai terhadap keduanya ; kesehatan dan waktu luang “ (HR Bukhori).

Sebagai sebuah nikmat, maka kesehatan  haruslah kita syukuri. Adapun bentuk syukur nikmat kesehatan, bisa terwujud setidaknya dengan dua hal, yaitu  menggunakannya  untuk amal kebaikan, serta menjaga kesehatan dalam diri kita. Khusus mengenai penjagaan kesehatan, ajaran Islam ternyata sejak awal sudah mengisyaratkan tentang pentingnya gaya hidup sehat.
Dalam banyak riwayat banyak disebutkan anjuran-anjuran Rasulullah seputar gaya hidup sehat, yang sangat bersesuaian dengan anjuran pakar kesehatan modern saat ini. Setidaknya ada empat point besar seputar gaya hidup sehat yang dianjurkan Islam, sebagaimana berikut :

Pertama : Pola makan yang seimbang dan berkualitas
Tidak diragukan lagi bahwa kebanyakan penyakit disebabkan karena pola makan yang salah. Penyakit-penyakit seperti diabetes, kolesterol dan asam urat lebih banyak bersumber dari kebiasaan mengkonsumsi makanan tertentu secara berlebihan. Islam sejak dini mengingatkan perlu keseimbangan dalam makan sehari-hari. Firman Allah SWT : “ Makan dan minumlah kamu tapi janganlah berlebihan “ (QS A;-A’raaf 31) . Di dalam hadits, Rasulullah SAW secara spesifik menganjurkan kita untuk membagi rata antara jatah makan dan minum kita, beliau bersabda : “Tidak ada  yang lebih buruk dari perut bani adam, cukuplah bagi seorang muslim makan yang bisa menegakkan punggungnya, jika ia memang harus makan maka hendaknya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya” (HR Al-Hakim).
Selain anjuran dalam keseimbangan pola makan, Islam juga menganjurkan menjaga kualitas gizi dengan mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Karenanya, secara spesifik dalam Al-Quran dan Sunnah disebutkan beberapa makanan tertentu yang bergizi tinggi seperti : susu, madu dan kurma.
 

Kedua : Pola Istirahat yang teratur
Istirahat adalah kebutuhan manusia yang diakui oleh Islam. Kelelahan fisik memancing masuknya penyakit lanjutan. Rasulullah SAW mengingatkan dengan keras beberapa sahabat yang bertekad untuk beribadah dengan keras tanpa memperdulikan istirahat, beliau bersabda : “ Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka bukanlah bagian dariku “ (HR Bukhori). Dalam keseharian, Rasulullah SAW pun memberi contoh bagaimana beliau tidur lebih awal, dan bangun lebih awal agar terjaga kebugarannya. Beliau dan para sahabat pun membiasakan tidur sejenak di siang hari (qailullah) untuk membantu tubuh agar ringan menjalankan qiyamul lail di malam harinya. Bahkan dalam posisi tidur pun beliau memberikan contoh  agar tidur menyamping dan melarang tidur telentang. Semua itu terbukti berpengaruh signifikan pada kualitas tidur seseorang.

Ketiga :    Anjuran Olahraga yang teratur
Rasulullah SAW bersabda : “ mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah ” (HR Bukhori). Bukan hanya sekedar memberikan motivasi, Rasulullah SAW pun diriwayatkan beberapa kali melakukan olahraga seperti jogging bersama ibunda Aisyah ra, bahkan olahraga keras sekalipun semacam gulat di tengah-tengah para sahabat. Dalam Islam pun dikenal beberapa macam olahraga yang sangat dianjurkan untuk dilatihkan pada anak-anak kita, yaitu : memanah, menunggang kuda dan berenang. Semua ini tentu saja berpengaruh besar pada kualitas kesehatan seseorang.

Keempat : Menjaga Kebersihan Badan & Lingkungan
Lingkungan dan badan yang kotor jelas menjadi sumber datangnya berbagai macam penyakit. Karenanya, penjagaan kesehatan badan dan lingkungan dalam Islam begitu jelas dan gamblang disampaikan.  Salah satunya adalah firman Allah SWT : “ dan pakaian-pakaianmu maka bersihkanlah “ (QS Al-Mudatsir : 4). Begitu pula tentang kesehatan badan misalnya, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersiwak (membersihkan mulut dan gigi) dan mandi secara teratur dan rutin.

Akhirnya, Islam –disadari atau tidak- ternyata sejak awal telah menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan melalui beraneka ragam pola hidup sehat yang sesuai syariat. Jika kita berusaha menjalankannya sedikit demi sedikit ditambah niatan menjalankan syariat, maka bukan tidak mungkin dua hal kebaikan akan kita dapatkan sekaligus, yaitu ; kesehatan dan pahala menjalankan syariat. Wallahu a’lam bisshowab.

*tulisan dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Solo ( Jumat 19 Maret 2010) Selengkapnya...

20/01/10

Meningkatkan Performance Aktifis Dakwah

0 comments

Islam meminta kita bersikap tawadhuk bukan berarti memposisikan diri untuk siap ditindas, ditekan dan dilecehkan.  Islam bahkan menjelaskan hakikat kemuliaan itu terpatri begitu jelas dalam diri setiap orang beriman. Lupakan saja aura kekalahan dan kesedihan yang menghambat masa depan kita dan kejayaan Islam. Janji kemenangan dalam Al-Quran seharusnya kita sambut dengan memproduksi adrenalin optimisme yang luar biasa dalam darah kita.

Allah SWT berfirman :

Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah , benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." padahal kekuatan/kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui “ ( QS Munafiqun 8)

“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman “ (QS ali Imron 179)

Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai ( QS Taubah 33)

Islam telah memberikan begitu banyak suggesti bagi kita untuk selalu optimis dan bersikap menjadi pemenang dalam setiap kesempatan. Karenanya, selayaknya bagi aktifis untuk menunjukkan kekuatan itu, agar dia dan misi kemenangannya benar-benar menggetarkan dan diperhitungkan baik lawan maupun kawan.

Tidak layak bagi aktifis untuk mencitrakan diri menjadi seorang yang sholeh dengan modal pakaian taqwa saja ! Kurang sempurna rasanya dianggap menjadi solusi perubahan umat jika hanya terlihat mondar-mandir di masjid saja. Bahkan seorang Umar Al-Faaruq pernah memarahi sahabatnya yang merekomendasikan seseorang untuk mengisi sebuah jabatan hanya karena pernah melihatnya begitu khusyuk beribadah di masjid ! Sungguh belum teruji kualitas seorang aktifis jika hanya diukur dengan sisi ibadahnya saja. Bahkan, seorang ahlu ibadah pun tidak selalu identik dengan kelemahan.

Profil Umar bin Khottob barangkali bisa membuka mata kita lebih jelas. Dalam banyak kitab sejarah disebutkan, di antaranya Al-Kamil fit TarikhI. Seorang wanita bernama Syifaa binti Abdullah bercerita, suatu ketika ia melihat sekelompok pemuda berjalan dengan lambat, saling berbicara dengan ucapan yang lirih dan perlahan, mereka pun makan dengan porsi yang sangat sedikit. Melihat hal tersebut, Syifa bertanya : “ Siapa sih mereka itu ? “. Maka ada yang menjawab : “ mereka adalah para ahlu ibadah … “.  Lalu Syifa -dengan menyimpan geram- mengatakan : “ Demi Allah , adalah Umar bin Khottob .. seorang yang saat berbicara begitu lantang, ketika berjalan pun dengan cepat, ketika memukul begitu keras, bahkan saat makan pun ia makan dengan kenyang, dan ia benar-benar seorang ahli ibadah ! “

Nah ! Lihatlah bagaimana sosok Umar memberikan gambaran bagi kita hakikat performance dai yang sesungguhnya. Ia bukanlah sosok lamban, pelan dengan alasan kekhusuyukan dan kesabaran. Ia bukanlah sosok halus dengan alasan sebagai ahlu ibadah. Tetapi performance dai adalah yang mampu menggetarkan baik kawan maupun lawan. Lantang dalam berbicara, cepat dalam bertindak, keras dalam memukul, bahkan -jika perlu – saat makan pun ia selalu menjadi unggulan.

Lihat pula contoh nyata lainnya dari sosok Abu Dujana. Menjelang perang Uhud Rasulullah mengadakan briefing untuk menyemangati pasukannya. Beliau mengambil sebilah pedang sambil bersabda, "Siapa yang akan memegang pedang ini untuk disesuaikan dengan tugasnya?"
Beberapa orang tampil, namun pedang itu tidak pula diberikan kepada mereka.

Kemudian, Abu Dujana tampil begitu percaya diri seraya berkata, "Apa tugasnya, ya Rasulullah?" "Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada musuh sampai ia bengkok," jawab Rasulullah SAW.  Abu Dujanapun terpilih membawa pedang simbol kemenangan itu, ia segeramengenakan pita (kain) merah di kepalanya.  Semua sahabat paham sepenuhnya, apabila Abu Dujana sudah mengikatkan pita merahnya itu, maka itu adalah pertanda bahwa ia siap bertempur hingga ajal menjelang.

Abu Dujana mengambil pedang dari Rasulullah, mengikatkan kain merah di kepala, lalu berjalan dengan lagak yang begitu sombong, bak petinju tak terkalahkan yang memasuki ring tinju.  Bahkan Rasulullah SAW pun ikut mengomentari cara abu Dujana berjalan dengan mengatakan : “ Sungguh cara berjalan seperti ini sangat dibenci Allah, kecuali dalam kondisi perang seperti saat ini" .

Akhirnya, jika Anda masih berkutat bahwa bayangan seorang aktifis dakwah adalah mereka yang harus senantiasa berwajah teduh, berdahi hitam, berjalan dengan pandangan menunduk-nunduk, lalu mengayunkan langkah kaki dengan tenang ( baca :gontai) sebagai bukti kekhusyukan …., maka untuk sementara lupakan saja bayangan semu itu. Hari ini kita harus menunjukkan kekuatan dan kesiapan kita untuk memberikan solusi dalam setiap permasalahan bangsa. Hari-hari ini kita harus mampu menggetarkan hati orang-orang yang sebelumnya selalu angkuh memandang rendah pada diri setiap kita.  Semoga kita mampu mewujudkannya ! Selengkapnya...

25/12/09

Dari Hina menjadi Mulia !

0 comments


Seorang budak muslim keturunan Persia hidup di masa Rasulullah SAW, mengabdi pada keluarga Abu Hudzaifah.  Perbudakan pada masa itu adalah warisan sistem jahiliyah yang begitu mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya. Manusia yang sejatinya mulia tiba-tiba teronggok seolah-olah menjadi barang dagangan yang bisa dijual kapan saja sesuka hati. Tak ada kemuliaan yang tersisa.

Budak itu bernama Salim, dikemudian hari ia dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah sehingga sering dikenal dengan Salim maula abi hudzaifah. Setelah merdeka, ia tidak puas begitu saja. Salim segera membenahi kekurangannya selama ini, maka ia segera mempelajari Al-Quran, membaguskan bacaannya dan memperbanyak hafalannya.

Kesungguhan Salim mencari ilmu segera berbuah. Dulu ia adalah budak yang benar-benar diremehkan harga dirinya. Ilmunya tentang Al-Quran telah memuliakan dirinya. Sebelum Rasulullah SAW sampai di Madinah pada peristiwa hijrah, Salim menjadi imam dari para sahabat di Masjid Quba. Hal ini karena ia mempunyai hafalan Al-Quran yang lebih banyak dari yang lainnya, bahkan dari seorang Umar bin Khotob sekalipun. Lebih dari itu, Rasulullah SAW pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil bacaan al-Quran dari 4 orang, salah satunya adalah Salim maula Abu Hudzaifah.

Bukan itu saja, Salim yang notabene adalah mantan budak ternyata dicalonkan menjadi Khalifah oleh Umar bin Khotob ! Sebuah jabatan yang diyakini oleh semua muslim membutuhkan syarat-syarat yang berat dan mulia ! Umar bin Khotob dengan lugas mengatakan di akhir masa kepemimpinannya :  Seandainya satu dari dua orang ini masih hidup, niscaya aku akan tenang jika kekhalifahan ini diserahkan kepadanya ; mereka adalah Salim maula Abu Hudzaifah dan Abu Ubaidah Al-Jarroh !

Kemuliaan Salim berlanjut hingga akhir hayatnya di kancah jihad fi sabilillah. Adakah kematian yang lebih mulia dari syahadah ? Dalam perang Yamamah, Salim dipercayakan memegang panji kebesaran pasukan muslimin. Dalam sebuah riwayat diceritakan, saat pasukan muslim terdesak dan mulai terpecah-pecah, Salim berseru lantang : " Bukan seperti ini kita dahulu berperang bersama Rasulullah SAW! ". Serta merta  ia menggali lobang kecil dan memasukkan kedua kaki ke dalamnya agar tidak ikut berlari bersama yang lainnya. Maka kemudian ia terus berperang mempertahankan panji kaum muslimin dengan segenap tenaganya. Ketika tangan kanannya terputus akibat tebasan musuh, segera tangan kirinya menyambar panji yang hampir terjatuh menyentuh tanah. Tak lama kemudian tangan kirinya pun dibabat lawan dan segera ia memeluk panji dengan tubuhnya yang tersisa. Ia terus berperang mempertahankan panji itu hingga syahadah menjemputnya. Tubuhnya jatuh tersungkur ke bumi, namun arwahnya membumbung tinggi ke langit sana. Perjuangannya baru saja usai, berganti kebahagian sejati disisi tuhannya. Hidup mulia dan mati mulia.

Apa yang membuat sang mantan budak ini merubah kehidupannya dari kehinaan menjadi bertebar kemuliaan ? Apakah yang membuat seorang mantan budak dipercaya menjadi imam sholat di depan para sahabat yang mulia ? Bahkan Rasulullah SAW merekomendasikan namanya untuk menjadi guru Al-Quran bagi seluruh sahabat bahkan umatnya ? Apa juga yang membuat seorang Umar bin Khotob mengaguminya dan meyakini kemampuannya menjadi khalifah ?

Barangkali jawaban yang paling realistis adalah karena ilmu yang ia punya. Kemuliaan segera bersanding pada dirinya ketika ia bertekad untuk mempelajari al-Quran yang mulia, mempelajari bacaannya dan juga menghafalnya. Ilmu telah mengubah Salim sang mantan budak itu menjadi begitu mulia. Mulia melebihi sahabat lainnya para pembesar kaumnya.

Contoh di atas baru satu cerita. Saya percaya, disekitar kita banyak orang yang terangkat kemuliannya karena ilmunya. Orang miskin menjadi disegani, dihormati, karena ilmu yang diraihnya. Wong ndeso  yang senantiasa terpuruk menjadi diperhitungkan karena ilmu yang dikuasainya. Bahkan orang cacat – maaf , yang awalnya sering diremehkan, dijauhi atau justru dikasihani menjadi dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Asy-Syaikh Dr. Sulaiman Karom, dosen sekaligus Ketua Jurusan Syariah di kampus tempat saya belajar di Sudan, adalah seorang dengan kaki yang cacat hingga mengharuskan beliau harus berjalan dari kelas ke kelas dengan tongkat penyangga. Saya yakin, semua mahasiswa pasti mengagumi dan memuliakannya. Tidak pernah terbersit dalam hati mereka untuk meremehkan, kasihan, apalagi menjauhinya. Ilmunya yang begitu luas telah memuliakannya di hadapan kami para mahasiswanya. Menghormati dan mencintainya dengan tulus tanpa pamrih apapun.
Itu semua adalah contoh di dunia, di akhirat tentu mereka jauh lebih mulia. Lebih dari yang kita kira ! Selengkapnya...

18/12/09

Mengelola Keberanian

0 comments

Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraiys. Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu, mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di tanah suci. Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan Quraiys pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.

Kegelisahan itu tak terbendung lagi saat Umar bin Khottob mendeklarasikan niatnya untuk berhijrah.  Pemuda pemberani itu membawa pedang yang siap dihunuskan setiap saat, lalu sholat dan thawaf sejenak di Baitullah, sementara seluruh mata Quraisy tajam tertuju pada sosok tinggi besar itu. Usai thowaf, Umar naik ke atas bukit memandang sekeliling dengan pandangan yang teguh nan angkuh. Ia berseru lantang menciutkan hati kafir Quraisy. Ucapannya yang begitu tegas terpampang dalam sejarah orang-orang pemberani : “ Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim, maka temui aku dibalik bukit ini !!! “.  Ucapan yang tajam bak pedang terhunus. Menginjak-nginjak kesombongan dan harga diri kafir Qurays. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka, bahwa sosok Umar kini benar-benar menantang keberanian mereka.

Pemuda itu tidak sedang bercanda dengan ucapannya. Ia tidak menantang dengan sembarang ucapan. Ia tidak memberi peluang kemenangan. Ia tidak menantang pada posisi lemah bahkan tidak pula seimbang. Ia menantang dalam posisi kemenangan ! Karenanya ia memilih kalimat yang tajam : “Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim ….. “. Habis sudah kesombongan yang sempat terpatri dalam barisan Qurays. Mereka bagaikan kerbau dicocok hidung. Tak ada respon, tak ada kemarahan. Bahkan wajah merekapun seolah tertunduk kalah. Dan Umar bin Khottob pun melenggang tenang ke Madinah. Allahu Akbar !

Jangan tergesa menuduh Umar bin Khotob nekad setengah mati. Jangan pula terburu berlebihan memuji bahwa ia super pemberani tanpa strategi. Tidak, sekali-kali tidak. Yang sedang dilakukan oleh Umar adalah mengelola potensi keberanian dengan cerdas. Ia sedang berstrategi dengan mengukur kemampuan dan potensi diri. Ia tahu persis kapan harus melakukan serangan ‘psyco war’ yang tajam menghujam, sebagaimana ia juga tahu kapan saat harus mundur teratur mengganti strategi.  Inilah yang dilakukan Umar di medan Hudaibiyah. Saat seribuan lebih pasukan muslim di Madinah hendak menunaikan umroh di tanah suci, kafir Quraisy pun bersegera mengancam untuk menahan mereka mati-matian.  Lalu Rasulullah SAW pun meminta Umar untuk menjadi utusan resmi, melobi pihak Quraiys agar membuka pintu Mekkah bagi kaum muslimin yang akan umroh. Tapi kali ini Umar menolak dengan halus permintaan Rasulullah SAW yang sangat dihormatinya. Umar ra merekomendasikan Utsman bin Affan agar menjadi utusan berikutnya.

Ada apa dengan Umar ? Kemana keberaniannya saat Hijrah seorang diri menantang seluruh penduduk Qurays ? Apakah keberaniannya mati suri setelah beberapa tahun menikmati kenyamanan ‘ Madinah” ?.  Tidak, sekali-kali tidak. Kali ini Umar ra pun sedang memainkan strateginya. Ia cerdas mengelola keberanian. Ia tidak sedang takut dan bahkan tidak pernah terbersit dalam hatinya rasa takut itu. Bagaimana ia bisa takut, sedangkan Rasulullah SAW saja menggambarkan sosok Umar sebagai satu-satunya manusia yang Jin pun enggan dan jengah berpapasan dengannya ? Lalu apa yang dimaksudkan Umar dengan penolakannya itu ?

Yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah strategi. Keberanian Al-Faaruuq itu tetap utuh pada tempatnya. Tidak berkurang sedikitpun dalam dadanya. Ia mundur sejenak karena sebuah strategi. Ia selalu cerdas mengelola keberanian yang ia miliki. Mengapa Umar menolak menjadi utusan Rasulullah SAW dan justru merekomendasikan nama Utsman bin Affan ? Kecerdasan Umar dalam mengelola keberanian bisa kita lihat dalam beberapa hal berikut ini.

Pertama : Umar sadar dengan potensi dirinya. Ia bukanlah tipe negosiator yang baik. Ia seorang yang tegas dan tak terlampau suka berdialog dengan penentang keberanan. Jika ia menjadi utusan, maka ia takut akan merusak agenda damai Rasulullah SAW yang datang ke Mekkah untuk sebuah tujuan ibadah yang begitu mulia. Jadi pada titik ini, ia merasa bukan orang tepat untuk membawa pesan kedamaian !

Kedua : Umar bin Khottob lebih merekomendasikan Utsman, karena Umar tahu persis bahwa Utsman lebih handal dalam kemampuan lobby dan agitasi. Bukan itu saja, Umar juga tahu bahwa Utsman masih mempunyai kaki yang kokoh di Mekkah, keluarganya masih tersebar banyak di tanah mulia itu. Mereka adalah jaminan tidak langsung bagi keselamatan Utsman saat memasuki wilayah Quraisy. Berbeda dengan Umar bin Khottob dari Bani ‘Adi, yang mempunyai akses sekuat keluarga Utsman di Mekkah.

Ketiga : Umar menyadari sepenuhnya, bahwa kepalanya saat ini sangat berharga dalam pandangan orang-orang Quraiys.  Umar masuk dalam kategori ‘most wanted’ bagi keluarga veteran Badr dari pihak pasukan Quraisy. Betapa tidak ? Ingatan pasukan Quraiys pasti tidak akan pernah lupa, bagaimana pedang Umar telah banyak menyambar kepala pemuka-pemuka mereka di medan Badar. Pedang Umar telah banyak menumpahkan darah yang begitu murah saat itu. Inilah yang menjadikan gigi mereka selalu bergemeretak penuh dendam saat mendengar nama Umar. Umar tahu persis akan hal ini, karenanya ia mundur sejenak bukan karena penakut. Tapi ia begitu cerdas tahu kapan saatnya maju dan mundur, dan tetap dalam keberanian yang kokoh.  Umar bin Khotob juga cerdas saat merekomendasikan nama Utsman, karena Umar tahu bahwa profil Utsman relatif netral di mata Qurays. Mereka belum menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar, karena Utsman bian Affan tidak pernah terlibat dalam pertempuran Badar. Utsman tidak ikut mengayunkan pedang bersama kaum muslimin lainnya di medan Badr, atas perintah Rasulullah SAW untuk fokus pada perawatan istrinya yang sedang terbaring sakit parah di Madinah.

Inilah kecerdasan Umar dalam mengelola keberanian. Tahu kapan saatnya tampil meruntuhkan kesombongan lawan, dan paham kapan ia harus mundur sejenak menyimpan keberanian untuk tidak ditampilkan.

Setiap kita mempunyai potensi keberanian. Setiap hari keberanian kita akan ditantang dengan berbagai permasalahan. Keberanian kita akan senantiasa diuji dengan permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Akan ada berbagai pilihan untuk membuat keputusan-keputusan besar yang senantiasa menggoda bagi kita untuk menjawabnya saat ini juga, apakah dengan menampilkan keberanian begitu saja apa adanya, ataukah menyimpannya sejenak dengan penuh kecerdasan dan strategi sebagaimana Umar bin Khottob mencontohkan ?

Semua pasti akan mengalami saat-saat semacam ini. Para penentu kebijakan selalu saja dalam posisi yang gamang ; Apakah menunjukkan keberanian untuk memuaskan harapan para pendukungnya ? Agar keberanian itu tetap terjaga citranya di hadapan teman, keluarga atau bawahannya. Ataukah memilih mengelola keberanian itu dengan cerdas, menyimpannya sejenak, sehingga seolah terlihat tak ada keputusan yang berani, tetapi sejatinya yang ada adalah langkah jitu yang akan membuahkan kemenangan telak dan sekaligus membungkam lawan!. Akhirnya,  selamat mengelola keberanian Anda dengan cerdas. Semoga bermanfaat ! Selengkapnya...

12/12/09

Kristalisasi Keringat

0 comments

Istilah di atas mungkin sering kita dengar sambil lalu dengan sedikit menyungging senyum. Karena yang menyampaikannya adalah seorang yang Tukul yang selalu mengundang tawa. Tapi sejatinya ia tidak sedang bercanda saat menyebutkan istilah ‘keramat’ di atas. Ia hanya ingin menyederhanakan sebuah usaha perjuangan yang dirintisnya selama tujuh belas tahun di Jakarta dengan ungkapan ‘kristalisasi keringat’ !.  Sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah kerja keras bertahun-tahun, yang dihiasi cucuran keringat dan derai air mata, akhirnya membuahkan hasil yang membuat orang segera membelalakkan mata. Dari wong ndeso kampung Purbayan, menjadi entertaint yang sukses di belantara ibu kota, tetapi masih tetap menjaga kesederhanaannya.  Bahkan acara Just Alvin di Metro Tv beberapa hari yang lalu menyebut Tukul dengan The Power of Dream.

Yang ingin saya ambil dan mengajak anda untuk merenung sejenak adalah ungkapan di atas “ kristalisasi keringat’, bukan pada sosok Tukul yang meskipun tetap sederhana dan lucu, tetapi  tetap saja penuh kontrovesi dengan jenis pekerjaannya di Bukan Empat Mata yang selalu melibatkan wanita-wanita cantik yang mengumbar aurat dan pesona.   Saya sepakat sepenuhnya dengan ungkapan sederhana di atas. Kristalisasi Keringat menyadarkan kita bahwa sebuah kesuksesan tidak pernah dicapai dengan instant, tanpa keringat apalagi bertaburan canda tawa dan foya-foya.  Hampir bisa dipastikan, sosok-sosok yang sukses hari ini adalah buah dari keringat dan kerja kerasnya pada tahun-tahun sebelumnya. Lihat saja pada deretan orang terkaya atau pengusaha ternama yang ada hari ini, apakah ada diantara mereka yang dahulu adalah seorang miskin lalu kemudian mendapatkan hadiah undian besar, kemudian mengolahnya menjadi kekayaan seperti saat ini ? Jawaban bisa dipastikan tidak. Mereka yang kaya hari ini justru tidak pernah menerima undian dan grandprize apapun dari pihak manapun. Mereka mengawali dari sebuah usaha mandiri yang penuh resiko dan tantangan. Mengalami tekanan, luka, kekalahan untuk kemudian terus melaju dan akhirnya menang.

Mereka yang sukses hari ini bisa dipastikan mempunyai sejarah prestasi dan kerja keras yang terdahulu. Tidak ada yang tiba-tiba dan sim salabim menjadi orang kaya. Semua memerlukan kristalisasi keringat untuk mengabadikan kesuksesannya. Adapun kekayaan instant, undian dan hadiah, sungguh menjebak hati orang-orang yang lemah. Tipuan yang seolah nikmat tapi sesungguhnya meruntuhkan masa depan. Betapa banyak orang gagal saat dikasih modal berlimpah, betapa banyak yang sempat menjadi OKB (orang kaya baru ) karena mendapat undian hadiah, lalu kemudian terlempar keluar dari impiannya, kembali menjalani kehidupan miskinnya ?

Saya teringat sebuah reality show mancanegara yang diorganisir oleh manajemen Oprah Winfrey. Mereka memberikan uang sebesar  US $100.000 kepada beberapa gelandangan di jalanan, lalu mengawasi kehidupannya dari jauh -tanpa mengintervensi- untuk mengetahui apa yang mereka gunakan dengan dana sebesar itu.  Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang hampir-hampir seragam. Mereka akan segera melunasi hutang, membeli mobil bahkan rumah, lalu pergi bersenang-senang bersama keluarga, selebihnya membantu   teman dan saudara yang membutuhkan. Beberapa bulan setelahnya, mereka mulai kehabisan uang dan mulai menjual apa-apa yang sempat terbeli beberapa waktu sebelumnya. Waktu terus berlalu, dan tidak sampai setahun mereka telah kembali menjadi gelandangan seperti semula. Tidak ada perubahan, sebagaimana impian banyak orang yang mengandaikan mendapat uang yang besar agar bisa berubah menjadi orang kaya. Tidak ada kesuksesan, yang ada adalah keterpurukan dan terjerembab dalam dua lobang yang sama.

Kristalisasi keringat, adalah jalur khusus yang selalu dilalui oleh mereka yang sukses dalam segala bentuk kehidupan ini. Terlalu banyak contoh untuk disebutkan. Sosok seperti Anas Urbaningrum, Rama Pratama, bahkan yang segaek Fahmi Idris dahulunya adalah aktifis mahasiswa yang selalu berada di barisan paling depan saat demonstrasi. Fahmi Idris pada tahun 66 adalah seorang demonstran yang berteriak lantang tepat dihadapan seorang marinir bersenjata laras panjang, ia mengatakan : “ tembak saya kalau berani ! “.  Tidak terlampau jauh, SBY presiden kita sudah memulai prestasinya dengan mendapatkan anugerah Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik AKMIL angkatan 1973. Bukti dan sosok lainnya masih sangat banyak berderet di buku kumpulan biografi orang-orang sukses. Saya sering mengumpakan dengan sebuah istilah  : sejarah prestasi. Tidak ada pahlawan kesiangan hari ini, yang ada adalah seorang yang mempunyai banyak sejarah prestasi di masa lalunya, lalu menunggu sedikit momentum yang tepat untuk mampu meledakkannya !.

Kristalisasi Keringat, saya dan Anda berhak mewujudkannya . Bukankah Allah SWT telah memberikan janji yang begitu jelas dalam Al-Quran :  “ Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ (QS Ar-Ra’d : 11)  Salam Optimis. Selengkapnya...

04/12/09

Hari Raya yang terlupakan

0 comments

Dua hari raya kaum muslimin telah berlalu dalam waktu kurang dari tiga bulan ini. Kita semua pasti merindukan kembali hari yang mulia dan penuh bahagia tersebut. Semestinya, kerinduan semacam ini bisa kita obati setiap pekan, yaitu saat hari Jumat hadir di hadapan. Karena Allah SWT juga menjadikan hari Jumat sebagai hari raya kaum muslimin. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat : Sesungguhnya ini adalah hari raya yang dijadikan Allah untuk kaum muslimin  (HR Ibnu Majah) .

Namun sayangnya, betapa sering hari Jumat itu terlewat begitu saja. Tanpa makna sebuah hari raya. Kemuliaan hari Jumat banyak tertutupi di masyarakat kita, salah satunya karena kesibukan pekerjaan, khususnya bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Bahkan hingga menjadikan sholat Jumat menjadi ajang istirahat siang di sela-sela penatnya pekerjaan. Disadari atau tidak, kesibukan pekerjaan dan aktifitas telah menjauhkan kaum muslimin dari semangat memuliakan hari Jumat. Hari Jumat disamakan dengan hari lainnya, nyaris tiada ada bedanya.

Tulisan ini kami maksudkan untuk mengingatkan kembali seputar keutamaan hari Jumat serta amal-amal apa saja yang bisa kita jalankan di dalamnya. Pembahasan seputar amal ibadah di hari Jumat sesungguhnya bukanlah hal yang baru, para ulama selalu membuat bab khusus yang membahas tentang hari Jumat dalam kitab-kitab fikih yang mereka susun. Semuanya didukung dengan banyak dalil shahih yang menegaskan kembali tentang kemuliaan dan keutamaan hari Jumat. Mari bersama kita intip sebagiannya. 

Pertama : Tentang Keutamaan-keutamaan Hari Jumat. Diantara sekian keutamaan hari Jumat adalah dihapuskannya dosa-dosa dan dikabulkannya banyak doa. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Sholat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Romadhon ke Romadhon, adalah penghapus dosa antara satu dan lainnya selama dijauhi dosa-dosa besar. (HR Muslim). Pada hari Jumat kita dianjurkan memperbanyak doa, bahkan disebutkan ada waktu-waktu khusus yang dijanjikan setiap doa yang terpanjatkan akan dikabulkan. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah menyebutkan hari Jumat kemudian bersabda : “ Di dalamnya ada satu saat (sejenak waktu) yang tidaklah seorang hamba Muslim berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah bertepatan dengannya melainkan Allah pasti memberinya “ ( HR Bukhori Muslim). Setidaknya dengan dua keutamaan di atas, cukup menjadi alasan bagi kita untuk bahagia dan bersemangat dalam menyambut hari Jumat setiap pekannya.

Kedua : Tentang amalan yang bisa dilakukan pada hari Jumat. Sesungguhnya amalan hari Jumat tidak hanya seputar ibadah wajib berupa sholat Jumat berjamaah di masjid saja. Ada beberapa amalan sunnah yang menghiasi hari Jumat dari awal pagi hingga malamnya. Dimulai dari persiapan menuju sholat Jumat, kita disunahkan untuk mandi, memakai wangi-wangian, dan bahkan memakai pakaian terbaik yang kita punya. Jika kita perhatikan, sunnah-sunnah ini sangat identik dengan sunnah pada dua hari raya yang lainnya. Selain amalan tersebut, pada hari Jumat kita juga disunnahkan untuk membaca surat Al-Kahfi dan  memperbanyak membaca sholawat.    Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat maka (Allah) meneranginya dari cahaya (selama waktu) antara dua jumat “ (HR Nasa’I) . 

    Akhirnya, kita sudah mengumpulkan banyak alasan untuk memperlakukan hari Jumat sebagai hari raya yang mulia. Selamat menyambutnya dengan gembira dan mengisinya dengan amalan-amalan yang utama. Semoga setiap Jumat suasana keberkahan hari raya mampu meliputi rumah dan hati kita. Wallahu a’lam bisshowab
* dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Solo Suara Merdeka , Jumat 4 Des 2009 Selengkapnya...

Toggle

Contributors